Selasa, 16 Juli 2013

Empat siswa Indonesia ikuti Olimpiade Biologi di Swiss

Jakarta - Empat siswa Indonesia mengikuti Olimpiade Biologi Internasional (IBO) yang digelar di Bern, Swiss, 14-21 Juli.
Keempat siswa itu, Kezie Tanfriana (SMAK BPK Penabur Gading Serpong), Rogerry Deshycka (SMA Pribadi Bandung), Muhammad Farhan Maruli (SMAN 78 Jakarta), dan Titis Setiyobudi (SMAN Sragen), demikian disampaikan Sekretaris Pertama KBRI Bern Oktavia Maludin kepada Antara, Selasa.
Para siswa Indonesia itu akan berkompetisi dengan 250 pelajar lainnya di seluruh dunia untuk meraih gelar juara.

"Olimpiade tahun ini memiliki arti tersendiri bagi Indonesia karena pada tahun 2014 Indonesia akan menjadi tuan rumah IBO," kata Oktavia.

Selain itu, enam orang dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, yaitu Dr. Agus Permana, Prof. Intan Ahmad, Dr. Ahmad Faisal, Dr. Indra Wibowo, Dr. Lulu Fitri, dan Biofagri Ascadendria juga ikut ambil bagian dalam kompetisi ini sebagai Tim Juri Internasional IBO.

Selama seminggu peserta olimpiade akan diuji pengetahuan dan kemampuannya dalam praktik dan teori diantaranya tentang biologi molekuler, anatomi dan fisiologi tumbuhan dan hewan, ekologi, genetika dan evolusi.

Indonesia telah aktif berpartisipasi di ajang kompetisi tahunan IBO sejak tahun 2000 dan didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Capaian siswa-siswi Indonesia juga cenderung meningkat tiap tahun, khususnya pada nilai tes (teori dan praktikum) serta perolehan medali," ujarnya.

Sebelumnya, Tim Olimpiade Biologi Indonesia meraih dua medali emas dan dua medali perunggu pada 2010 di Korea Selatan.

Pada 2011, Tim Olimpiade Biologi Indonesia meraih tiga medali perak dan satu medali perunggu di Taiwan. Prestasi yang sama terulang pada tahun 2012 di Singapura dengan tiga medali perak dan satu medali perunggu.





















Kapolda Papua: korban Nabire bukan akibat kerusuhan

Jayapura - Kapolda Papua Irjen Pol Tito Karnavian menegaskan, tragedi GOR Nabire yang menewaskan 17 orang (bukan 18 orang) bukan akibat kerusuhan melainkan karena ketakutan para penonton hingga berupaya keluar dengan berdesakan.
"Mereka tewas bukan karena dianiaya melainkan terhimpit dan terinjak-injak saat hendak keluar dari GOR," tegas Kapolda Papua menjawab pertanyaan Antara melalui telepon, Selasa.
Dikatakan, dari hasil penyelidikan sementara terungkap kasus yang menewaskan belasan orang itu terungkap akibat berdesakan di pintu utama sehingga terhimpit dan terinjak-injak sementara penonton lainnya yang berada di dalam gedung tidak mengalami cedera.

Selain karena berdesakan saat hendak keluar GOR Nabire, kapasitas gedung yang diperkirakan hanya sekitar 500 orang, juga tidak mampu menampung jumlah penonton.

"Saat insiden terjadi sekitar 1.500 orang yang memadati GOR yang berlokasi di kota lama Nabire sehingga memang sudah tidak memadai hingga para korban selain mengalami luka-luka juga sesak nafas," kata Kapolda Papua yang saat ini masih berada di Nabire.

Menurutnya, dari laporan sementara juga terungkap membludaknya penonton karena saat Bupati Nabire Izaias Douw masuk GOR, masyarakat yang berada di luar GOR meminta untuk diperbolehkan masuk sehingga Bupati Nabire kemudian mengijinkan masyarakat masuk tanpa membeli karcis.

Kebijakan itu menyebabkan masyarakat berduyun-duyun memasuki GOR hingga melebihi daya tampung, jelas Irjen Pol Tito seraya menambahkan, seusai final antara Yulianus Pigome melawan Alfius Rumkorem yang dimenangkan Alfius, para pendukung Pigome tidak terima sehingga terjadi keributan dan saling lempar seperti kursi dan botol air minum.

"Kalau akibat lemparan baik kursi maupun botol air tidak akan separah itu,"ungkap Kapolda.

Ia menambahkan, dari 17 korban yang meninggal, tiga di antaranya sudah dimakamkan, sedangkan yang dirawat di RSUD Nabire saat ini tercatat 20 orang.

Kualitas penduduk Indonesia urutan 121 dunia

Bantul - Kualitas penduduk Indonesia berdasarkan Human Development Index 2012 menduduki urutan 121 dari 187 negara yang ada di dunia.
"Jumlah penduduk yang besar apabila berkualitas akan menjadi potensi sumber daya manusia yang luar biasa, namun kenyataannya kualitas penduduk Indonesia masih memprihatinkan," kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Fasli Jalal, di Bantul, Selasa.
Saat Peringatan Hari Keluarga ke 20 di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Fasli mengatakan, dengan jumlah penduduk yang besar dan kualitas penduduk yang rendah akan berpengaruh terhadap daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Fasli mencontohkan, pemanasan global (global warming) pencemaran udara, perusakan lingkungan yang ujungnya terjadi bencana banjir dimana-mana, longsor hingga meletusnya gunung merapi dan tsunami.

Oleh sebab itu, kata Kepala BKKBN perlunya peningkatan di bidang akses dan mutu pelayanan kesehatan, kualitas pendidikan serta peningkatan produktivitas agar lebih sejahtera.

"Selain itu, untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yanhg berkualitas, keluarga mempunyai peran yang sangat strategis, karena keluarga merupakan basis dari bangsa," katanya.

Fasli mengatakan, berdasarkan hasil sensus penduduk 2010 jumlah penduduk Indonesia mencapai sebanyak 237,6 juta jiwa, dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk (LPP) sebesar 1,49 persen per tahun.

Sementara itu, berdasarkan hasil pendataan keluarga tahun 2012 jumlah keluarga miskin yang masuk dalam kriteria keluarga pra sejahtera dan sejahtera 1 (keluarga miskin) mencapai sekitar 28 juta keluarga.

"Kemiskinan menjadikan keluarga tidak memiliki akses dan bersifat pasif dalam meningkatkan kualitas dan keluarganya, demikian juga tingkat partisipasi masyarakat terhadap pembinaan ketahanan keluarga dan tumbuh kembang anak," katanya.

Ia juga mengharapkan semua komponen bangsa baik unsur pemerintah, pemda LSM serta tokoh masyarakat, termasuk kader keluarga dapat saling bahu membahu dalam mengatasi permasalahan kependudukan ini.

"Revitalisasi program kependudukan dan KB yang sudah dicanangkan Presiden RI hendaknya juga dijalankan dengan komitmen yang sungguh-sungguh agar apa yang ditargetkan dapat dicapai," katanya.

Kota Kendari lumpuh akibat genangan air hujan

Kendari - Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, lumpuh akibat genangan air hujan yang melanda sejumlah permukiman penduduk dan ruas jalan di daerah itu, Selasa. Pantauan Antara di Kendari, hujan deras yang terjadi sejak Senin (15/7) malam hingga Selasa pagi, menggenangi sebagian permukiman penduduk yang padat dan jalan raya di Kota Kendari, sehingga menghambat aktivitas masyarakat setempat.

Suasana arus lalu lintas di jalan raya pada pagi hari ini tampak lengang, padahal biasanya suasana di hari- hari kerja seperti saat ini selalu dipadati kendaraan angkutan kota dan mobil pribadi yang mengangkut penumpang, terutama pegawai negeri/swasta dan anak sekolah.

Di sejumlah ruas jalan yang biasanya padat arus lalu lintas di Kota Kendari, seperti jalan poros Lepolepo-Wuawua dan Pasar Baru-Kampus Baru-Anduonuhu tergenang air sampai ketinggian sekitar 1 meter sehingga tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda empat dan roda empat.

Genangan air yang merendam di sejumlah kawasan permukiman penduduk dan jalan raya di Kota Kendari umumnya disebabkan meluapnya sungai dan kanal-kanal serta kurang berfungsinya drainase di sepanjang jalan.

Sampai pukul 08.00 Wita, kondisi hujan deras terus berlangsung sehingga sebagian besar masyarakat, baik kalangan pegawai, pedagang, maupun anak sekolah, masih enggan menuju ke tempat tujuan mereka masing-masing.

Suasana perkantoran pemerintah dan swasta, pasar tradisional dan toko perbelanjaan, serta sekolah tampak sepi.

"Saya belum bisa ke kantor karena tidak bisa ke luar rumah akibat genangan air yang tinggi di lingkungan tempat tinggal saya," kata Sarida saat berkomunikasi dengan rekan satu tempat kerjanya di Bank BTN Kendari, Selasa pagi.


Indonesia

The Dutch began to colonize Indonesia in the early 17th century; Japan occupied the islands from 1942 to 1945. Indonesia declared its independence shortly before Japan's surrender, but it required four years of sometimes brutal fighting, intermittent negotiations, and UN mediation before the Netherlands agreed to transfer sovereignty in 1949. A period of sometimes unruly parliamentary democracy ended in 1957 when President SOEKARNO declared martial law and instituted "Guided Democracy." 


After an abortive coup in 1965 by alleged Communist sympathizers, SOEKARNO was removed from power. From 1966 until 1988, President SUHARTO ruled Indonesia with his "New Order" Government. After rioting toppled Suharto in 1998, free and fair legislative elections took place in 1999. Indonesia is now the world's third most populous democracy, the world's largest archipelagic state, and the world's largest Muslim-majority nation. Current issues include: alleviating poverty, improving education, preventing terrorism, consolidating democracy after four decades of authoritarianism, implementing economic and financial reforms, stemming corruption, reforming the criminal justice system, holding the military and police accountable for human rights violations, addressing climate change, and controlling infectious diseases, particularly those of global and regional importance. In 2005, Indonesia reached a historic peace agreement with armed separatists in Aceh, which led to democratic elections in Aceh in December 2006. Indonesia continues to face low intensity armed resistance in Papua by the separatist Free Papua Movement.
 
Copyright Lowongan Kerja All Rights Reserved
Powered by Blogger
Update by INDOJOBSIDE
Facebook Fanpage Lowongan Kerja Hari Ini.